FioReLLi's LiFetime: Relung Pemikiran [Non]Esensial

ini blog gw yg pertama...& mungkin jg yg trakhir...krn gw ga niat utk nyaingin novel Harry Potter yg dibuat sampe 7 serie...^_ isinya 100% curhatan gw yg gw tulis tanpa melalui lembaga sensor...so, mohon maaf klo isinya sedikit kekanakan & blak2an... buon'appetitta

Sunday, December 07, 2008

FTDO Syndrome

Actually, ini bukan jenis penyakit mematikan temuan terbaru dari dunia medis. Melainkan sebuah symptom yang udah terlanjur menjadi “penyakit” yg mewabah di masyarakat, hasil pengamatan gw selama beberapa tahun terakhir. Persentase kejadiannya pun cukup tinggi sehingga mungkin bisa dibilang ini udah jadi penyakit umum. Mungkin juga ciri khas Indonesia. Karena di negara lain sepertinya ga ada syndrome yang sama yang sampe separah ini.

Ya. FTDO atau Finally The Door Opened Syndrome. Frase pertama (FTDO) kalo diterjemahin bebas berarti perasaan senang ketika melihat pintu yang membuka. Bisa juga melambangkan perasaan lega yang meluap-luap (bahkan cenderung berubah menjadi hyforia – hyper euforia) setelah menunggu sesuatu cukup lama (dalam hal ini, pintu yg tertutup). Gw namain begitu karena di Indonesia, hampir semua manusia dengan seketika bisa terjangkit egoisme akut dan berubah perangai menjadi sangat aggressive ketika melihat pintu yang tadinya tertutup, akhirnya terbuka.

Sementara dikatakan “syndrome” karena ini hanya terjadi di tempat-tempat tertentu. Tempat umum lebih tepatnya. Dan di waktu-waktu tertentu pula. Yaitu saat sekerumunan orang dengan kepentingan yg sama berada di suatu tempat (tentu aja di dekat sebuah pintu, sebagai si objek utama yang wajib ada). Juga dikategorikan “syndrome”, karena gw pikir ini udah jadi penyakit yg menjangkiti siapapun di negeri ini tanpa mengenal jenjang usia atau pendidikan.

Pendidikan? Ya. Karena banyak orang yang notabene berpendidikan dan berpikiran sangat logis sangat mungkin berubah menjadi, kita katakan saja, sedikit barbar dan antilogika serta cenderung kekanakan ketika terjangkiti oleh syndrome tersebut.

Tentu aja gw ga akan membuat suatu hipotesa seperti ini tanpa didukung bukti-bukti yang otentik. Beberapa contoh kasus gw alami sendiri di lapangan. Dan dari sekian banyak tempat, salah satu tempat yang potensial menjadi daerah endemik FTDO Syndrome adalah halte bus Transjakarta. Memang, ga semua halte. Tapi bisa anda lihat, pada halte-halte tertentu dan pada jam-jam tertentu ia akan menjadi “area merah” bagi siapapun yang ada di dalamnya.

Halte busway Kp. Melayu pada jam-jam 18.00 – 20.00 misalnya. Dulu, sehabis pulang kantor beberapa kali gw terpaksa memilih masuk di area ini ketika gw ngerasa udah ga keburu lagi utk ngejar kereta ekonomi AC tujuan Depok.
Sampai di halte, tanda-tanda FTDO Syndrome sebenarnya udah nampak begitu ngeliat kerumunan wajah-wajah gusar & ga sabar di depan pintu pembatas. Terlalu banyak orang disitu, sampe-sampe bergerak aja sulit. Kondisi yang jelas-jelas makin mendukung “virus” FTDO Syndrome untuk berkembang makin liar.

Dan bener aja. Setelah setengah jam tersiksa, antara menunggu dan kehabisan oksigen, ketika bus datang dan pintu dibuka, ribuan orang menyeruak keluar, saling dorong dan sikut demi mendapat kursi-kursi nyaman & empuk yang jumlahnya emang ga seberapa.
Gw yang ada di tengah kerumunan tentu aja ga bisa berbuat apa-apa. Mau ga mau ikut terseret arus, meski sebenernya dalam hati gw berontak. Gw lebih milih saat itu ada di barisan paling belakang. Masuk bus dgn tenang & tertib, meski di depan gw orang-orang saling berebut, meski nanti di dlm gw harus berdiri. Setidaknya proses gw masuk ke dlm bus jauh lebih “bermartabat” dan sopan.

Sebenarnya maksud Pemda DKI ngebangun moda transportasi ini baik. Desain haltenya juga gw suka karena cukup futuristik & elegan, meski kadang proses pembangunannya agak “mengganggu” pengguna jalan. Masalah sebenarnya menurut gw justru kurangnya armada bus itu sendiri. Kalo jumlahnya cukup, niscaya calon penumpang ga harus berjubel & menunggu terlalu lama untuk 1 bus aja yang daya tampungnya juga ga seberapa.
*kok jadi kaya surat keluhan buat BLU Transjakarta gini? Hehe..*

Well..
Kembali ke “spektrum” penyebaran FTDO Syndrome.
Itu tadi salah satu area strategis berkembangnya FTDO Syndrome di Jakarta.

Wilayah lain yang area infektannya lebih luas adalah stasiun kereta api. Lagi-lagi ga semua stasiun, tapi tetap aja stasiun adalah potensi besar munculnya FTDO Syndrome. Terutama stasiun-stasiun di jabodetabek.

Ada beberapa stasiun yang bisa gw jadiin sampel:
1.Stasiun Depok baru di jam-jam berangkat ke kantor.
2.Stasiun Tebet di jam-jam pulang kantor.
3.Stasiun-stasiun di antara keduanya dengan waktu potensial terjadinya FTDO Syndrome berbanding terbalik dengan arah perjalanan para commuter.

Bahkan, stasiun adalah tempat khusus yang bisa mengacaukan istilah FTDO Syndrome itu sendiri. Karena ga semua kereta berpintu. Kalaupun berpintu, ya ga semua pintu bisa ditutup. Catat ya: DITUTUP. Kontradiktif dengan definisi FTDO yang gw kemukakan di awal tadi.

Di stasiun-stasiun inilah, FTDO Syndrome bermutasi menjadi varian baru yang bisa jadi lebih kronis gejalanya dibanding di tempat-tempat potensial FTDO lainnya.


Contoh kongkritnya adalah Stasiun KA Ps. Minggu, suatu hari di bulan Juli 2008.
Waktu itu gw dalam perjalanan menuju kantor, ketika KRL ekonomi yang gw tumpangi merapat di jalur 3. Di jalur 4, udah stand by sesama KRL ekonomi dengan tujuan yang sama, cuma dengan kondisi yang berbeda drastis. Kalau di KRL yang gw tumpangi, gw masih bisa leluasa berlarian di dlm gerbong (kalau gw mau), di jalur 4 justru sebaliknya. KRL disitu terlalu pejal sampai-sampai terlihat menggelembung disesaki ratusan manusia. Mulai dari dalam gerbong, sambungan gerbong, apalagi atap. Hampir ga ada satu inchi pun bagian kereta yang ga ditutupi manusia.

Sekedar info:
Stasiun Ps. Minggu terdiri dari 4 jalur. Jalur 2 & 3 dilewatin kereta yang cuma transit sebentar sebelum berangkat lagi, atau bahkan ga berhenti sama sekali (KRL Express). Jalur 1 & 4 dipakai untuk kereta harus berhenti sementara karena “disalip” KRL Express dengan tujuan yang sama. Jalur ini bisa juga dipergunakan untuk memarkir KRL yang “bermasalah” (biasanya mogok).

Nah, ngeliat dari kondisi di stasiun saat itu, firasat gw tiba-tiba langsung ga enak. KRL pejal tujuan Jakarta diparkir di jalur 4, sementara gw ke Jakarta bukan dengan kereta Express. Otomatis KRL pejal berhenti di jalur 4 bukan karena nunggu disalip Express. Kemungkinan satu-satunya adalah KRL pejal itu mogok. Dengan ratusan penumpang yang terlantar di atasnya. Anda pasti tahu apa artinya situasi kaya gini kan?

Yap, benar. Beberapa detik kemudian firasat buruk gw langsung terjawab. Melalui pengeras suara, staff stasiun bersabda agar para penumpang KRL pejal di jalur 4 mengikhlaskan diri untuk pindah ke KRL yang jauh lebih manusiawi di jalur 3, yaitu KRL yang gw tumpangi.

Dalam sepersekian detik, ratusan manusia serta merta menyerbu ke jalur 3. Semuanya tumpah ruah. Kalau di zaman cowboy, mungkin kereta gw ibarat karavan pengangkut bahan makanan yang terdampar di perkampungan Indian. Ga mungkin selamat. Pasti ludes. Begitulah. Gw cuma bisa pasrah. Ga sampai semenit, jadilah kereta gw sama pejalnya dengan KRL di jalur 4 tadi.

Sewaktu FTDO Syndrome belum mewabah, sebenarnya dunia perkeretaapian kita ga buruk-buruk amat kinerjanya. Di awal-awal 90an, semua KRL jabodetabek udah dilengkapi dengan pintu hidrolik yang bisa membuka dan menutup saat kereta transit di tiap stasiun. Meskipun tidak otomatis, karena dikendalikan secara manual dari kabin masinis. Setidaknya ini ga cuma bisa ditemuin di KRL Express aja, tapi juga untuk kelas ekonomi. Bayangin, KRL ekonomi. Bukti nyata kalo dulu kita juga pernah punya transportasi murah & merakyat yang nyaman.

KRL ekonomi kaya gitu masih bisa gw temuin di taun 96, meski mulai ada beberapa yang rongsok & ga berfungsi pintunya. Mungkin di masa-masa itulah FTDO Syndrome mulai menginvasi stasiun-stasiun, selain menancapkan taringnya juga di beberapa tempat umum lainnya.

Satu hal yang pasti. Disana. Di Stasiun Ps. Minggu, FTDO Syndrom telah bermetamorfosis menjadi bentuk lain yang jauh lebih masif dan kronis.

Finally. Contoh terakhir mungkin melengkapi argumen gw bahwa FTDO Syndrome udah jadi penyakit yang ga cuma mewabah di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga meluas ke daerah-daerah lain.
Bandung, adalah sampel lainnya yang gw ambil sebagai acuan.

Jumat, 3 Oktober 2008 sekitar pukul 13.00.
Selesei shalat Jumat di Masjid Agung Alun-alun kota Bandung, gw bersama adik & sepupu memutuskan untuk “mendaki” ke puncak menara kembar masjid tsb sebelum pulang. Kesan pertama yang gw tangkap sebelum memulai “pendakian” adalah:
Kotor.

Banyak noda minyak, saus serta plastik yang menghiasi lantai masjid, di sekitar pintu masuk menara. Juga semrawut, karena pedagang makanan kaki 5 berjajar menempati petak-petak virtual di sepanjang teras masjid. Manusiawi kalau mereka mencari nafkah, tetapi jadi tidak etis karena masjid adalah area sakral yang seharusnya dijaga kesuciannya.

Setidaknya kekecewaan gw sedikit terobati karena untuk bisa menikmati pemandangan di atas menara, pengunjung harus membeli tiket masuk terlebih dahulu. Jadi ga asal masuk. Ada prosedur yg harus dilewati. Namun tetap aja ada “bug” yang harus dibenahi. Agak konyol juga sih. Karena pengunjung yang udah beli tiket bisa dengan bebas dan leluasa “mendaki” lagi dengan tiket yang sama, sehubungan dengan tidak adanya petugas yang memvalidasi tiket. Yah, sepele memang, tapi tetap aja harus diperhatiin.

Kembali ke situasi saat itu. Setelah membeli tiket, kami antre di depan lift yang menghubungkan lantai dasar dengan puncak menara. Antreannya sendiri cukup rapi dan lurus di awal, tapi makin mendekati lift, makin ga beraturan bentuknya. Liftnya sendiri berkapasitas 10 orang, termasuk seorang operator di dalam yang bertugas membatasi pengunjung yang masuk. Nah, karena dibatasi manual seperti itu, beberapa orang yang masuk setelah orang ke-10, terpaksa harus keluar lagi menunggu giliran berikutnya. Menunggu lift yang sama sampai di lantai dasar kira-kira 7 menit kemudian, karena memang cuma ada 1 lift untuk menuju ke atas.

Entah karena ga mau terpisah dengan rombongannya atau karena ga sabar kalau harus menunggu giliran berikutnya, banyak orang yang akhirnya jadi agressive ketika pintu lift terbuka. Begitulah akhirnya, FTDO Syndrome tercatat disini. Gw cuma bisa geleng-geleng kepala tanpa mampu berbuat apa-apa kecuali menasehati adik dan sepupu gw untuk tetap ada di dekat gw dan sabar serta ga maksain diri masuk kalau kami memang ga bisa masuk barengan.

FTDO Syndrome memang menjengkelkan. Namun setidaknya kami masih beruntung. Dari atas menara, kami bisa melihat bangunan yang beberapa waktu yang lalu sempat membuat heboh Kota Kembang. Ketika puluhan nyawa melayang, saat berebut untuk keluar di sebuah konser musik underground. Entah siapa yang memicu, ratusan orang seolah berlomba untuk finish pertama di seberang pintu keluar. Meski gw yakin, banyak diantara mereka yang “terpaksa” menjalani itu. Sebabnya tentu aja: karena saat itu mereka ada disana, dan mereka tak kuasa melawan arus.

Padahal andai mereka mau sabar. Toh kalau mereka bisa tertib, semuanya pasti bisa keluar dari situ dengan selamat. PASTI keluar, dan PASTI selamat. Cuma masalah waktu aja kok. Konyol sekali rasanya, membuang-buang energi untuk hal yang sebenarnya ga perlu dilakukan. Namun sekali lagi, kerumunan massa dan sebuah pintu adalah provokator ulung yang mampu membuat logika seseorang luntur. Tidak terkecuali seorang yang berpendidikan sekalipun.

Well..
Mungkin kelak FTDO Syndrome bukan lagi merupakan suatu “penyakit” kronis yang harus dikhawatirkan. Kelak, saat ia telah ber-evolusi menjadi budaya nasional. Menggantikan KKN dan tradisi tebar pesona menjelang Pemilu. Mungkin hanya orang-orang skeptis seperti gw yang berpikiran seperti itu. Namun dalam hati gw tetap masih terselip satu harapan, kelak tempat-tempat umum di Indonesia bisa serapi dan se-tertib di negara-negara maju. Meski gw ga tau, ini bisa dikategorikan harapan atau cuma mimpi dari seorang yang utopis.

Ahh..
Lagi-lagi gw blm mampu lepas dari pikiran skeptis..





Depok,
6 Desember 2008
12.08

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

hola...
kena tag!

liat post gw tentang ini buat lebi jelasnya :
http://ghe2punya.wordpress.com/2008/12/17/wow-saya-di-tag

ditungguuuu..!!!

9:48 AM  

Post a Comment

<< Home