Hati Seekor Camar
Untuk musim yang sebentar lagi berganti.
Aku tak akan beranjak meninggalkan tempat ini.
Sementara camar-camar lain telah berangkat mencari kehidupan yang baru di belahan bumi yang lain.
Aku tak tertarik untuk ikut.
Aku sadar, akan butuh banyak waktu beradaptasi untuk itu.
Sementara aku telah lama dibesarkan disini.
Aku bukannya tak mendengarkan kata-kata mereka.
Saat mengigatkanku bahwa kelak kehidupan disini akan lebih sulit.
Saat badai memaksa ikan-ikan untuk pergi ke perairan yang lebih hangat.
Sementara udara dingin mungkin saja menghentikan aliran darahku.
Aku mengerti.
Tetapi bukankah cobaan datang untuk dihadapi?
Untuk dicari jalan keluarnya.
Entah mengapa, aku tak pernah bisa melarikan diri begitu saja dari masalah.
Lagipula aku mencintai tempat ini.
Aku yakin, tak akan pernah menemukan lagi tempat senyaman ini di belahan bumi manapun.
Mungkin itu salah satu alasan mengapa aku masih bertahan disini.
Jikalau aku harus beranjak, aku hanya akan pergi untuk menjemput kicauan yang benar-benar sama sepertiku.
Kupikir telah seumur hidup aku mencari.
Saat bersamamu, pasti akan lebih mudah buatku menghadapi masa-masa sulit.
Lebih dari hanya sekedar teman bicara, saat camar-camar lain mulai beranjak meninggalkan tempat ini.
Aku telah dituduh menghabiskan sebagian waktuku untuk menyendiri. Mereka tidak sepenuhnya salah, tapi tidak juga 100% benar. Ada saat-saat dimana aku ingin terbang bebas mengitari laut lepas sendiri. Hanya untuk mengusir awan mendung yang seringkali menggelayut di pikiranku. Namun suatu saat aku juga bersenda gurau dengan camar-camar lainnya. Beberapa, tentu saja. Hanya mereka yang kuanggap benar-benar sahabat.
Oh ya, aku selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan baik.
Karenanya aku tak pernah menghabiskan hasil tangkapanku sesaat setelah aku mendapatkannya. Bagiku hidup tidak hanya untuk hari ini. Aku tidak ingin mati kelaparan hanya karena aku tak punya cadangan makanan saat musim yang sulit tiba. Lagipula kelak aku tak akan hidup sendiri.
Itulah mengapa kini aku mulai mengumpulkan ranting-ranting. Sedikit demi sedikit. Aku tak pernah lelah melakukannya. Jika aku menginginkan sesuatu, maka aku akan mengusahakannya hingga dapat. Meskipun harus dicapai dalam waktu yang lama. Aku akan sabar menjalani. Begitu pula halnya dengan ranting-ranting ini. Jiwa seniku sedikit banyak bisa membantuku untuk membuat sarang yang indah. Meski tidak bisa dibilang mewah. Aku membuatnya di tempat yang cukup terlindung dari angin dan hujan. Ini akan membuatmu merasa nyaman saat menyendiri bersamaku.
Mungkin aku tak akan pernah mengatakannya. Tetapi bersamamu membuatku merasa aman dan nyaman. Seperti berada di sisi api di malam hujan yang dingin. Ada banyak hujan di dalam kehidupanku. Dan bila tidak, akan terasa demikian. Kamu memiliki keoptimisan mengenai dirimu yang membawaku pergi jauh saat hatiku diliputi awan. Saat menemukanmu, aku mulai berani bermimpi untuk merasakan kehidupan yang lurus. Jauh dari hiruk pikuk seperti yang selama ini kualami.
End of Part One
Monday
August 18 2008
1:58 pm

